07 July 2015

Ibrani - Minggu 7 Selasa



Pembacaan Alkitab: Ibr. 2:14-18


Melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus menjadi kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita (2:17). Ini berarti Ia telah membuat Allah puas atas kita. Ia telah memuaskan keadilan serta semua tuntutan Allah atas diri kita. Ia telah membereskan setiap masalah yang ada antara kita dengan Allah. Melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus tidak saja mengecap maut bagi kita dan menjadi kurban pendamaian karena dosa-dosa kita, tetapi juga telah memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut (2:14). Ia telah menyingkirkan maut. Ia telah menyelesaikan masalah dosa-dosa kita. Ia pun telah memusnahkan Iblis. Karena itu, Ia layak menjadi Imam Besar kita yang berbelas kasihan. Kristus juga telah membebaskan kita dari perhambaan maut (2:15). Kita telah dibebaskan oleh-Nya dari perhambaan dosa, dari perhambaan karena takut akan maut, bahkan dari perhambaan maut itu sendiri. Maka kita tidak lagi diperhamba oleh apa pun.

Satu syarat lagi yang membuat Kristus layak menjadi Imam Besar ialah dalam kebangkitan-Nya Ia telah melahirkan banyak saudara untuk membangun gereja (2:10-12). Dalam kebangkitan Ia adalah Putra sulung Allah, dan kita adalah saudara-saudara-Nya untuk membangun gereja. Ia dengan kita memiliki hayat dan sifat yang sama. Ia dengan kita sama-sama berada dalam kebangkitan. Dia adalah Kepala gereja, sedang kita adalah anggota-anggota gereja. Hal ini membuat Dia lebih memenuhi syarat untuk menjadi Imam Besar kita. Dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan dalam pengagungan-Nya itu juga merupakan suatu syarat bagi jabatan imamat-Nya. Pengagungan, kemuliaan, dan kehormatan-Nya memberi-Nya kemungkinan menjadi Imam Besar untuk melayani kita. Dengan posisi dan kemungkinan itu, Ia dapat sesuai perkenan hati-Nya memberi belas kasihan dan kesetiaan-Nya kepada kita.

Alkhirnya, Kristus disempurnakan dan layak menjadi Pemimpin keselamatan kita (2:10). Sebagai Pemimpin keselamatan, Ia sepenuhnya layak menjadi Imam Besar kita. Apakah imam itu? Kita telah mengatakan bahwa imam ialah orang yang melayani Allah. Meskipun mengatakan demikian itu benar, tetapi tidak memadai. Seorang imam bukan hanya seorang yang melayani Allah, tetapi juga seorang yang melayankan Allah kepada manusia. Hampir semua orang Kristen mengira seorang imam ialah seorang yang melayani Allah, tetapi tidak banyak yang tahu bahwa imam lebih-lebih adalah orang yang melayankan Allah kepada manusia. Dari satu segi, melayani Allah adalah hal kedua, sedang melayankan Allah kepada manusia itulah yang utama. Jadi, makna utama dari jabatan imam bukan melayani Allah, melainkan melayankan Allah kepada manusia. Jika sebagai imam, kita hanya tahu melayani Allah, tidak tahu melayankan Allah kepada manusia, itu sangat kasihan.

Perkara utama mengenai Kristus sebagai Imam Besar bukanlah Ia melayani Allah, melainkan Ia melayankan Allah kepada kita. Sebagai Imam Besar, tugas Kristus yang utama adalah melayankan Allah ke dalam diri kita. Apa yang dikerjakan Kristus di dalam kita yang utama ialah melayankan Allah ke dalam diri kita. Inilah Imam Besar kita. Ia terus melakukan satu hal, yakni melayankan Allah ke dalam diri kita. Boleh jadi ada orang yang akan membantah : Melkisedek tidak melayankan Allah ke dalam manusia. Lalu apakah roti dan anggur itu? Itu mengiaskan apa? Roti dan anggur mengiaskan Allah menjadi kenikmatan kita, Allah telah dilayankan kepada kita agar kita disegarkan, ditunjang, diteguhkan, diperkuat, dan dirawat, sehingga kita dapat bertumbuh dengan segala kekayaan-Nya. Inilah tugas utama imam. Pada prinsipnya, kita yang melayani Allah hari ini adalah imam-imam Allah. Sebagai imam, tanggung jawab kita yang utama ialah melayankan Allah kepada mereka.

Bila kita melayankan Allah kepada manusia, akhirnya mereka akan mengekspresikan Allah. Kristus senantiasa melayankan Allah kepada orang-orang yang beriman, hingga di dalam mereka terdapat ekspresi Allah. Kita pernah mengatakan bahwa ekspresi Allah ialah kemuliaan. Dalam Alkitab kemuliaan Allah tidak lain ialah ekspresi Allah. Ketika Allah diekspresikan, barulah kita beroleh kemuliaan. Namun, bagaimana Allah dapat diekspresikan? Demi Kristus sebagai Imam Besar, melayankan Allah senantiasa ke dalam kita.


Sumber: Pelajaran-Hayat Ibrani, Buku 1, Berita 13

06 July 2015

Ibrani - Minggu 7 Senin

Pembacaan Alkitab: Ibr. 2:14-18


Mengapa penulis Surat Ibrani memakai istilah belaskasihan dan setia untuk menggambarkan Imam Besar? Jawabannya ialah karena pada kedua pasal pertama surat ini penulis mengutamakan dua hal: Kristus adalah Putra Allah, adalah Allah; Kristus adalah Anak Manusia, adalah manusia. Belaskasihan ditujukan kepada diri-Nya sebagai manusia, sedang setia ditujukan kepada diri-Nya sebagai Allah. Untuk menjadi orang yang setia, kita tidak saja harus memiliki kebajikan, tetapi juga harus memiliki kekuatan itu. Misalkan, saya menjanjikan sesuatu kepada Anda. Walaupun saya memiliki kebajikan, tetapi belum tentu saya sanggup memenuhi janji saya itu. Hati saya ingin mempertahankan kesetiaan, kepercayaan, namun saya kekurangan kekuatan; saya tidak berdaya menggenapi janji saya. Akhirnya, saya terpaksa menjadi tidak setia. Namun Imam Besar ini bukan hanya seorang yang jujur, Ia adalah Allah yang setia. Allah adalah setia (10:23). Apa yang Ia janjikan pasti digenapi-Nya. Ia tidak pernah berdusta (6:18). Apa yang telah Ia katakan, dapat digenapi-Nya. Ia mampu memenuhi setiap perkataan-Nya. Hanya Allah yang dapat setia sepenuhnya. Tidak ada seorang pun di antara kita bisa setia sepenuhnya. Apakah yang dapat menghalangi Allah untuk menggenapkan perkataan-Nya? Tidak ada! Yesus bisa menjadi Imam Besar yang setia, karena Ia adalah Allah yang Mahakuasa itu. Karena Ia adalah Putra Allah dan Allah itu sendiri, Ia tentu dapat setia.

Berbelaskasihan mengacu kepada Kristus sebagai manusia. Ia menjadi manusia dan menempuh kehidupan sebagai manusia di bumi ini serta mengalami segala penderitaan manusia. Akhirnya, Ia benar-benar memenuhi syarat untuk membelaskasihani kita. Ia mengerti bagaimana menaruh belas kasihan kepada manusia. Ia adalah seorang manusia yang berpengalaman atas kehidupan insani dan yang mengalami segala pahit getir hidup insani.

Bagaimana Kristus dapat menjadi Imam Besar yang penuh dengan belas kasihan dan setia? Karena Ia adalah Anak Manusia yang memiliki sifat insani juga Putra Allah yang memiliki sifat ilahi. Ia benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi Imam Besar yang sedemikian. Harun adalah seorang imam besar yang baik, namun ia hanya memiliki sifat insani tanpa sifat ilahi. Maka Harun mungkin penuh dengan belas kasihan, tetapi ia belum tentu bisa setia. Akan tetapi Imam Besar kita, Yesus Kristus yang sebagai Putra Allah dan Anak Manusia, penuh dengan belas kasihan dan setia, sebab Ia adalah Allah juga manusia.

Syarat lainnya yang memungkinkan Kristus menjadi Imam Besar ialah Ia telah berinkarnasi menjadi serupa dengan kita (2:14, 17). Malah kita boleh mengatakan, Ia lebih daripada serupa dengan kita, sebab dalam hidup insani-Nya Ia telah menderita susah yang belum pernah kita rasakan. Agar layak menjadi Imam Besar yang penuh dengan belas kasihan, Ia telah menjadi serupa dengan kita dan bersimpati terhadap segala kelemahan kita.

Tuhan Yesus juga layak menjadi Imam Besar karena Ia telah menderita karena pencobaan (2:18). Jika Anda membaca lagi keempat kitab Injil, Anda akan tahu bahwa tidak seorang pun yang mengalami kesukaran, serangan, kesalahpahaman, dan fitnahan sebanyak yang dialami-Nya. Para pencipta kabar angin selalu memutar balik perkataan Anda. Mereka mengganti beberapa kata Anda dengan kata-kata lain, sehingga kata-kata Anda berubah maksudnya. Adakalanya Tuhan mengucapkan beberapa perkataan, Ialu mereka mengambil beberapa di antaranya dan memutarbalikkannya untuk dijadikan alasan menuduh Tuhan.

Kristus layak menjadi Imam Besar kita juga karena Ia telah menerima penderitaan maut (2:9). Maut yang dialami Tuhan Yesus benar-benar merupakan suatu baptisan. Pada suatu kali Tuhan bertanya kepada murid-murid-Nya, "Dapatkah kamu...dibaptis dengan baptisan yang Kuterima?" (Mrk. 10:38). Baptisan di sini ditujukan pada kematian-Nya. Kematian-Nya adalah Sungai Yordan yang sejati. Dalam menerima maut itu, Ia telah menyeberang sungai dan memasuki wilayah yang penuh dengan ekspresi Allah, penuh dengan kemuliaan-Nya.


Sumber: Pelajaran-Hayat Ibrani, Buku 1, Berita 13

04 July 2015

Ibrani - Minggu 6 Sabtu



Pembacaan Alkitab: Ibr. 2:11-13


Seperti telah kita lihat, gereja tersusun dari saudara-­saudara Putra sulung Allah dalam kebangkitan (2:12). Karena itu, gereja juga adalah teman sekutu (mitra) Kristus yang korporat. Ketika tiba pada 3:14, kita akan membahas lebih lanjut tentang mitra ini. Sementara ini, kita cukup mengingat bahwa gereja adalah (mitra) sekutu Kristus yang korporat.

Dalam gereja, Putra sulung Allah memberitakan nama Bapa kepada saudara‑saudara‑Nya. Karena Bapa adalah sumber hayat dan sifat, maka memberitakan nama Bapa berarti menunjukkan sumber hayat dan sifat kepada saudara‑saudara‑Nya. Orang‑orang Yahudi pada zaman dulu mengenal Allah, namun mereka tidak mengenal Bapa. Mereka mengenal Allah sebagai Pencipta, namun tidak menge­nal Bapa yang melahirkan. Mereka hanya mengetahui kuasa penciptaan Allah, tidak mengetahui kemampuan‑Nya mela­hirkan. Mereka tahu kuat kuasa Allah, tetapi tidak tahu hayat Bapa. Bahkan murid‑murid Yesus sendiri, sebelum kebangkitan, tidak mengenal hayat dan kuasa melahirkan dari Bapa. Sebelum kebangkitan, mereka hanya mengetahui apa yang diketahui orang‑orang Yahudi. Kemudian pada hari kebangkitan, Tuhan datang kepada mereka dan memberitakan Bapa, agar mereka mengenal Bapa sebagai sumber hayat.

Setelah memberitakan nama Bapa, Putra Ialu memuji-­muji Bapa di tengah‑tengah gereja. Bagaimanakah cara Ia memuji? Ia memuji‑muji Bapa di dalam saudara‑saudara‑Nya. Karena Ia ada di dalam kita, Ia pun memuji‑muji Bapa di dalam puji‑puji­an kita. Puji‑pujian‑Nya ada di dalam puji‑pujian kita. Ke­tika kita memuji, Ia juga memuji karena Ia ada di dalam pujian kita. Ketika kita memuji Bapa dari dalam roh kita, Ia pun bersama kita memuji dari dalam roh kita. Alangkah indahnya! Hari ini, gereja di bumi merupakan Tubuh kor­porat Putra sulung Allah. Dalam sidang gereja, Putra su­lung Allah memuji‑muji Bapa. Bila kita datang ke sidang gereja, kita harus membuka mulut kita memuji‑muji Bapa. Kalau kita berbuat demikian, berarti kita bekerja sa­ma dengan Putra sulung Allah yang tinggal di dalam kita. Apakah Anda ingin memperoleh Putra sulung itu lebih banyak? Kalau ingin, Anda harus banyak memuji Bapa. Le­bih banyak kita memuji Bapa, lebih banyak kita memperoleh Putra sulung Allah. Lebih banyak kita memuji, lebih ba­nyak Ia memuji di dalam pujian kita. Kerja sama yang terbaik dengan Kristus adalah memuji‑muji Bapa. Menurut pengalaman kita, banyak di antara kita dapat bersaksi demikian. Di beberapa sidang gereja, kita telah mempraktekkan hal ini, yaitu banyak memuji‑muji Bapa, dan itulah saatnya kita banyak menikmati Kristus. Bahkan sangat terasa betapa Ia memuji‑muji di dalam pujian kita.

Kristus telah memperkenalkan Bapa sebagai sumber hayat. Sekarang dalam setiap sidang gereja Ia sedang menantikan kesempatan untuk bekerja sama dengan kita da­lam hal memuji‑muji Bapa. Cara terbaik bagi kita untuk memberikan kesempatan kerja sama tersebut ialah mem­buka roh kita dan memuji‑muji Bapa. Semakin banyak kita memuji, semakin banyak pula kita menikmati pujian‑Nya. Sewaktu kita memuji Bapa, kita pun menikmati Kristus. Kita bersatu dengan Kristus dalam memuji Bapa dalam sidang gereja. Semakin banyak kita memuji Bapa di dalam sidang, semakin banyak Dia memuji Bapa di dalam pujian kita, dan semakin banyak pula kita menikmati dan mem­peroleh Dia.

Gereja tersusun dari putra‑putra Allah yang sekaligus sebagai saudara‑saudara Kristus dalam kebangkitan. Gereja adalah mitra korporat Kristus, Putra sulung Allah, bersa­ma‑sama mengambil bagian dalam hayat, sifat, dan apa adanya Bapa. Dalam gereja, Bapa dipuji oleh Putra sulung­Nya di dalam putra‑putra‑Nya. Inilah gereja. Kini kita te­lah memahami mengenai putra‑putra, saudara‑saudara, dan gereja.


Sumber: Pelajaran-Hayat Ibrani, Buku 1, Berita 12