30 May 2012

Galatia - Minggu 7 Rabu

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:2 Penekanan dalam wahyu ekonomi Allah di dalam kedua pasal pertama Kitab Galatia ialah pada Kristus. Tetapi dalam pengalaman hayat kita, sebagaimana yang disajikan dalam keempat pasal terakhir, penekanannya adalah pada Roh itu. Pernahkah Anda perhatikan, dalam Galatia 1 dan 2 tidak disebut-sebut tentang Roh itu? Tetapi, ayat demi ayat membicarakan Kristus. Mulai 3:2, Roh itu diwahyukan; Roh itu dalam pasal 3 adalah Kristus dalam pasal 2. Janganlah mengira bahwa Roh itu terpisah dengan Kristus. Dalam pasal-pasal yang membahas wahyu ekonomi Allah, kita membaca tentang Kristus, tetapi dalam pasal-pasal yang mengungkapkan pengalaman hayat kita, kita membaca tentang Roh itu. Di samping memberi kita wahyu tentang ekonomi Allah, Kitab Galatia juga memberi kita wahyu tentang pengalaman hayat kita yang di depan bersifat obyektif, sedangkan yang di belakang bersifat subyektif. Penekanan dalam wahyu ekonomi Allah pada segi obyektifnya adalah Kristus, tetapi penekanan dalam pengalaman hayat pada segi subyektifnya adalah Roh itu. Ada banyak orang Kristen, ketika ditanya apakah mereka telah menerima Roh itu, mereka tidak jelas, bahkan tidak tahu bagaimana menjawabnya. Mereka perlu nampak, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, terjadilah suatu kesatuan yang organik. Saat bertobat dan beriman, saat itulah rampung suatu kesatuan organik yang ajaib antara kita dengan Tuhan Yesus. Banyak orang karena tidak tahu tentang fakta kesatuan organik semacam ini, maka mereka tidak dapat menikmati Roh itu sebagai berkat Injil yang almuhit dan terakhir. Mereka tidak menikmati berkat ini, malahan diselewengkan ke peraturan-peraturan, doktrin, atau ke pemahaman Alkitab secara harfiah dan mati. Yang lainnya mungkin menuntut apa yang disebut berkat yang kedua atau pencurahan Roh dengan berbahasa lidah. Namun, dalam keempat kitab yang merupakan jantung wahyu ilahi dalam Perjanjian Baru - Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose - tidak disebut-sebut tentang bahasa lidah atau pencurahan Roh. Sebaliknya, Paulus menempatkan penekanan yang kuat atas pemeteraian Roh itu, jaminan Roh itu, dan pencicipan Roh itu. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita dimeteraikan oleh Roh itu. Pada saat itu pula terjadi kesatuan yang organik, jaminan Roh itu diberikan. Dengan kata lain, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita pun menerima Roh itu, dan Roh itu menjadi berkat Injil yang terakhir bagi kita. Para penganut agama Yahudi tidak mengetahui kesatuan organik yang rahasia dengan Kristus semacam ini, sedang kaum beriman Galatia tidak jelas tentang hal ini dan diselewengkan dari hal ini. Demikian pula orang-orang Kristen hari ini. Karena begitu banyak orang beriman tidak memahami apa yang terjadi dalam batin mereka pada saat mereka percaya Tuhan Yesus, mereka diselewengkan dan diduduki oleh hal-hal lain. Karena itu, penting sekali kita nampak apakah yang terjadi di dalam kita ketika kita percaya kepada Tuhan. Dengan satu kesatuan yang organik ini kita telah dicangkokkan ke dalam Allah Tritunggal. Sekarang seluruh diri Allah Tritunggal, semua yang telah Ia lakukan, semua yang telah dirampungkan, dan semua yang telah dicapai dan diperoleh-Nya, telah menjadi bagian kita. Karena para penganut agama Yahudi mengacaukan kaum beriman di Galatia dan karena kaum beriman di Galatia itu sendiri kekurangan pengenalan, maka Paulus berbeban menulis Surat Kiriman ini. Ia teristimewa berbeban membahas masalah-masalah dalam pasal 3. Setiap orang yang percaya harus jelas bahwa Kristus dan Roh itu adalah satu. Kesatuan ini adalah satu rahasia bagi kenikmatan kita. Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 13

29 May 2012

Galatia - Minggu 7 Selasa

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:9-10 Pada prinsipnya, hubungan Kristus dengan Roh itu dan hubungan antara Kristus Putra dan Bapa adalah sama. Fakta bahwa Roh hayat berada di dalam Kristus berarti ada satu hubungan batini di antara Tiga dari keAllahan itu. Putra itu Putra, Bapa itu Bapa. Namun, Bapa di dalam Putra, dan Putra di dalam Bapa. Demikian pula, Putra itu Putra, Roh itu Roh, tetapi Roh itu berada di dalam Putra. Hal ini menunjukkan Tiga dari Allah Tritunggal itu tidak dapat dipisah-pisahkan. Satu Korintus 15:45b mengatakan bahwa Adam yang akhir menjadi Roh pemberi-hayat (Tl.). Dua Korintus 3:17 menunjukkan kepada kita bahwa sekarang Tuhan adalah Roh itu. Adam yang akhir dalam 1 Korintus 15:45b dan Tuhan dalam 2 Korintus 3:17 keduanya mengacu kepada Kristus. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa hari ini Kristus dan Roh itu adalah satu. Orang-orang Galatia percaya kepada Kristus yang disalibkan melalui mendengar Injil, namun yang mereka terima adalah Roh itu (3:2; 4:6). Persona yang disalibkan di atas salib adalah Kristus, tetapi Persona yang masuk ke dalam orang-orang yang percaya adalah Roh itu. Dalam penyaliban untuk penebusan orang-orang yang percaya, Dia adalah Kristus, tetapi dalam penghunian sebagai hayat orang-orang yang percaya, Dia adalah Roh itu. Inilah Roh pemberi-hayat almuhit yang menjadi berkat Injil yang almuhit dan terakhir (ultima). Orang-orang yang percaya menerima satu Roh ilahi yang sedemikian ini karena mendengarkan tentang iman, bukan karena melakukan hukum Taurat. Dia masuk ke dalam orang-orang yang percaya dan hidup di dalam mereka, bukan karena mereka memelihara hukum Taurat, melainkan karena iman mereka dalam Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan. Jangan mengira bahwa Persona yang mati di atas salib itu berbeda dengan Persona yang masuk ke dalam kita. Persona yang mati bagi kita adalah Persona yang masuk ke dalam kita sebagai hayat kita. Ketika Persona ini mati di atas salib, Dia mati sebagai Kristus. Ketika Dia masuk ke dalam kita sebagai hayat kita, Dia masuk sebagai Roh itu. Dalam penyaliban untuk penebusan kita, Dia adalah Kristus (3:13), tetapi dalam penghunian sebagai hayat kita, Dia adalah Roh itu (Rm. 8:2, 9-10). Yang kita percaya adalah Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan, tetapi yang kita terima adalah Roh itu (3:2). Sebutan Persona yang kita percaya adalah Kristus, bukan Roh itu. Tetapi, ketika kita percaya kepada Kristus, kita menerima Roh itu. Kristus adalah Persona yang telah disalibkan demi penggenapan penebusan dan yang telah dibangkitkan. Karena itu, kita percaya kepada-Nya. Namun, ketika Dia masuk ke dalam kita, Dia masuk sebagai Roh itu. Dalam fungsi penebusan, sebutan-Nya adalah Kristus, sedang dalam fungsi hayat, sebutan-Nya adalah Roh itu. Selaku Persona yang paling penting dalam alam semesta, Kristus mempunyai status lebih dari satu. Meskipun Kristus dan Roh itu adalah satu, tetapi fungsi, sebutan, dan status-Nya berbeda. Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 13

28 May 2012

Galatia - Minggu 7 Senin

Pembacaan Alkitab: Rm. 8:2 Dalam 3:1-4:31 kita nampak satu perbandingan antara Roh oleh iman kepada Kristus dan daging oleh melakukan hukum Taurat. Dalam perbandingan ini kita nampak dua kelompok yang berlawanan satu sama lain: Roh dan daging sebagai kelompok pertama, sedangkan iman dan hukum Taurat sebagai kelompok yang lain. Hukum Taurat mengikuti daging, sedangkan iman mengikuti Roh itu. Jadi, Roh itu adalah oleh iman kepada Kristus dan melakukan hukum Taurat adalah oleh daging. Kedua pasal pertama dari Kitab Galatia boleh dianggap seperti sisi luar dari kitab ini. Tetapi pasal 3 adalah inti kitab ini, lembaganya. Dalam bagian inti Kitab Galatia ini diketengahkan perbandingan antara Roh itu dengan daging, juga antara iman dengan hukum Taurat. Karena itu, benarlah kalau mengatakan bahwa judul utama pasal 3 dan 4 adalah: Roh oleh iman kepada Kristus berlawanan dengan daging oleh melakukan hukum Taurat. Memiliki pengertian yang sedemikian terhadap pasal-pasal ini berarti memiliki sesuatu yang sangat besar nilainya. Tanpa nampak perbandingan ini kita tidak berdaya memahami apa yang diwahyukan dalam pasal-pasal ini. Galatia 3:1-14 menampakkan kepada kita bahwa Roh itu adalah berkat yang dijanjikan karena iman kepada Kristus. Di sini kita memiliki Roh itu, berkat, janji, iman, dan Kristus. Roh itu adalah berkat, berkat berasal dari janji, janji oleh iman, dan iman berada di dalam Kristus. Apa artinya mengatakan Roh itu adalah berkat dan berkat itu dari janji? Apakah artinya janji adalah karena iman? Tidaklah mudah kita memahami hal-hal ini, justru hal-hal inilah yang harus kita perhatikan ketika kita membahas pasal-pasal ini. Dalam 3:1-5 Paulus menyinggung Roh itu tiga kali. Da-lam ayat 2 ia bertanya, "Apakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada mendengarkan tentang iman?" (Tl.). Dalam ayat 3 ia bertanya lagi, "Kamu telah mulai dengan Roh, apakah sekarang kamu mau mengakhirinya di dalam daging?" Kemudian dalam ayat 5 Paulus bertanya apakah kaum beriman. Galatia menerima suplai Roh itu karena melakukan hukum Taurat atau karena mendengarkan tentang iman (Tl.). Jadi, Roh itu merupakan hal yang sangat penting dalam 3:1-5. Hal penting lainnya ialah "mendengarkan tentang iman". Paulus dua kali menyinggung hal mendengarkan tentang iman; pertama berkaitan dengan menerima Roh itu (ayat 2), kedua berkaitan dengan Allah menganugerahkan (menyuplaikan) Roh itu (ayat 5). Penerimaan Roh itu dan penyuplaian Roh itu, kedua-duanya berkaitan dengan mendengarkan tentang iman. Ditinjau dari segi doktrin, mendengarkan tentang iman di sini lebih penting daripada Roh itu, sebab yang ditekankan Paulus di sini adalah perbandingan antara melakukan hukum Taurat dan mendengarkan tentang iman. Walaupun mendengarkan tentang iman begitu pentingnya, tetapi kebanyakan pembaca Kitab Galatia justru mengabaikannya; kalau mereka tidak mengabaikan, tentu menganggapnya memang semestinya demikian. Jaranglah orang yang menuntut untuk mengetahui apakah sebenarnya arti mendengarkan tentang iman itu. Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 13

26 May 2012

Galatia - Minggu 6 Sabtu

Pembacaan Alkitab: Gal. 6:14 Kita perlu suatu pengertian yang jelas tentang manusia lama, ego, dan daging. Kita tidak perlu menanggulangi manusia lama, sebab manusia lama telah disalibkan bersama Kristus. Namun, dari hari ke hari kita perlu menyalibkan daging kita. Masalah kehidupan sehari-hari kita tidak berasal dari manusia lama, melainkan dari daging berikut hawa nafsu dan keinginannya. Karena itu, atas dasar fakta telah tertanggulanginya manusia lama kita melalui kematian Kristus, kita harus menyalibkan daging kita secara riil. Mengenal perbedaan antara Roma 6:6 dan Galatia 5:24 adalah hal yang sangat penting. Dalam 5:24 Paulus tidak berkata bahwa siapa yang milik Kristus, telah menyalibkan manusia lamanya. Tetapi Ia berkata bahwa mereka telah menyalibkan daging. Selain itu, kita perlu memahami : tidak ada seorang pun yang dapat menyalibkan dirinya sendiri. Orang tidak mungkin melakukan bunuh diri melalui penyaliban. Karena alasan inilah maka kita tidak mungkin menyalibkan manusia lama kita, yakni "aku" lama kita. Walaupun kita tidak dapat menyalibkan manusia lama, kita dapat menyalibkan daging. Ini bukan bunuh diri. Penyaliban manusia lama harus dilakukan orang lain, tetapi penyaliban daging harus kita laksanakan sendiri. Lalu bagaimanakah kita menanggulangi ego? Kita harus menyangkal ego melalui memikul salib. Ego telah berada di atas salib, biarlah kita meninggalkannya di sana, dan jangan membiarkannya turun. Membiarkan ego tetap berada di atas salib itu berarti memikul salib. Terakhir, Kristus disalibkan supaya dunia disalibkan bagi kita dan kita bagi dunia. Ini khususnya ditujukan kepada dunia agama. Dalam 6:14 Paulus mendeklarasikan, "Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dari aku bagi dunia." Ayat berikutnya membuktikan bahwa dunia dalam ayat 14 terutama ditujukan kepada dunia agama. Dunia agama ini adalah zaman jahat yang darinya kita telah diselamatkan melalui salib Kristus. Ketika kita merenungkan hal-hal ini, kita tahu tidak satu pun dari semuanya itu yang dapat dirampungkan melalui memelihara hukum Taurat. Karena orang-orang Galatia berupaya memelihara hukum Taurat, Paulus menganggap mereka bodoh dan mengatakan mereka telah terkena pesona (tipu daya). Dalam Surat Kiriman ini Paulus membawa mereka kembali kepada salib dan mendorong mereka memandang Kristus yang disalibkan. Jika kita nampak visi yang jelas tentang Kristus yang disalibkan, kita tidak akan kembali lagi kepada hukum Taurat. Sebaliknya, kita akan menaruh hukum Taurat di bawah kaki kita dan tinggal bersama Kristus yang telah disalibkan bagi kita. Kristus ini adalah pusat ekonomi Allah, dan salib Kristus adalah pusat operasi Allah untuk merampungkan ekonomi-Nya. Hari ini kita tidak perlu hukum Taurat. Kristus dan saliblah yang kita perlukan. Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 12

25 May 2012

Galatia - Minggu 6 Jumat

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:13 Kristus tersalib untuk menyerahkan diri-Nya sendiri untuk kita supaya Dia dapat membagikan hayat kepada kita. Hal ini sepenuhnya positif, sedang penanggulangan dosa-dosa dan melepaskan kita dari zaman jahat bersifat negatif. Pada pihak positif, Kristus disalibkan untuk menyalurkan hayat ilahi kepada kita, agar Dia dapat hidup di dalam kita dalam kebangkitan dan membebaskan kita dari perhambaan hukum Taurat (2:20). Melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus membebaskan hayat ilahi-Nya dan menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita. Hal ini memungkinkan Dia hidup di dalam kita dalam kebangkitan. Selain itu, Kristus yang hidup di dalam kita adalah Kristus yang berada dalam kebangkitan. Jika Kristus tidak disalibkan, bagaimanakah Ia dapat dibangkitkan? Sudah pasti hal itu tidak mungkin. Jika Kristus tidak berada dalam kebangkitan, Ia tidak dapat hidup di dalam kita. Kristus yang dapat tinggal di dalam kita adalah Kristus yang telah dibangkitkan, yang telah diproses, Kristus yang telah mengalami inkarnasi, kehidupan manusia, penyaliban, dan kebangkitan. Proses yang dialami Kristus ini memberi-Nya kedudukan dan jalan masuk ke dalam kita dan hidup di dalam kita dalam hayat kebangkitan-Nya. Kristus yang "mentah" tidak dapat menjadi hayat kita. Kristus yang menjadi hayat kita dan yang hidup di dalam kita adalah Kristus yang telah melalui proses. Melalui penyaliban-Nya Ia menanggulangi dosa-dosa kita dan alamiah kita yang jatuh. Kini, berdasarkan pekerjaan yang dirampungkan dalam penyaliban, Ia hidup di dalam kita dalam kebangkitan. Ini jelas menunjukkan bahwa salib merupakan pusat operasi Allah untuk melaksanakan ekonomi-Nya. Galatia 3:13 mengatakan, "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib." Sebagai Pengganti kita, di atas salib, Kristus tidak hanya menanggung kutukan bagi kita, tetapi juga menjadi kutuk karena kita. Kutuk hukum Taurat berasal dari dosa manusia (Kej. 3:17). Ketika Kristus mengangkut dosa kita di atas salib, Ia menebus kita dari kutuk hukum Taurat. Dosa, zaman jahat, dan kutuk, semuanya adalah masalah yang serius. Tanpa salib Kristus, bagaimanakah Allah dapat menanggulangi masalah-masalah tersebut dan merampungkan ekonomi-Nya? Kita benar-benar perlu Kristus yang disalibkan. Kita perlu Kristus yang mati di atas salib untuk membereskan semua masalah tersebut. Galatia 2:21 mengatakan, "Aku tidak menolak anugerah Allah. Sebab sekiranya ada pembenaran melalui hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus." Ayat ini menunjukkan Kristus telah mati untuk memenuhi tuntutan hukum Taurat, agar kita dapat memiliki kebenaran di dalam Dia. Di dalam Adam, kita tidak dapat memiliki kebenaran sebaliknya kita memiliki sifat dosa. Tetapi Kristus telah disalibkan di atas salib untuk memenuhi semua tuntutan hukum Taurat Allah yang kudus dan benar itu. Kini di dalam Kristus kita dapat memiliki kebenaran. Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 12

24 May 2012

Galatia - Minggu 6 Kamis

Pembacaan Alkitab: Gal. 3:1 Dalam 3:1 Paulus berkata, "Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapa yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?" Penyaliban Kristus menunjukkan bahwa semua persyaratan hukum Taurat telah digenapkan oleh kematian Kristus, dan melalui kematianNya, Kristus telah melepaskan hayat-Nya agar dapat disalurkan ke dalam kita dalam kebangkitan-Nya, untuk membebaskan kita dari perhambaan hukum Taurat. Hal ini sepenuhnya dilukiskan di hadapan orang-orang Galatia dalam pemberitaan Injil. Bagaimana mereka dapat mengabaikan hal ini dan terpesona hingga terbawa kembali kepada hukum Taurat? Betapa bodohnya! Dalam pandangan orang-orang Galatia, Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang. Paulus heran mengapa kaum beriman Galatia bisa melupakan lukisan yang demikian. Orang-orang yang berbalik kembali kepada hukum Taurat akan tidak ada sangkut pautnya dengan Kristus yang disalibkan. Jika Allah menginginkan kita memelihara hukum Taurat dan jika kita mampu memeliharanya, maka Kristus tidak perlu disalibkan. Karena alasan inilah maka dalam 2:21 Paulus mendeklarasikan, "Sebab sekiranya ada pembenaran melalui hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus." Galatia 3:1 merupakan lanjutan langsung dari 2:21. Kristus tentu tidak disalibkan tan-pa alasan. Sebaliknya, Ia disalibkan untuk satu tujuan besar. Pada hakekatnya, salib adalah pusat pekerjaan Allah dalam ekonomi-Nya, sebagaimana halnya Kristus sendiri merupakan pusat ekonomi Allah. Salib adalah pusat perampungan ekonomi Allah. Tanpa Kristus, ekonomi Allah tidak ada pusatnya, dan tanpa salib Kristus, operasi ekonomi Allah tidak ada pusatnya. Karena itu, perampungan ekonomi Allah sepenuhnya tergantung pada salib Kristus. Salib ini adalah pusat pekerjaan Allah dalam alam semesta untuk merampungkan ekonomi-Nya. Dalam Galatia 1:4 Paulus berkata bahwa Kristus "telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita." Di sini kita nampak bahwa dalam penyaliban-Nya, Kristus menyerahkan diri-Nya sendiri karena dosa-dosa kita. Betapa bodohnya orang -orang Galatia, dan betapa tegar dan kerasnya para penganut agama Yahudi! Dengan beralih kembali kepada hukum Taurat, mereka tidak ada jalan untuk menanggulangi dosadosa mereka. Dalam kitab ini Paulus seolah-olah berkata, "Kalian telah melakukan banyak dosa. Apakah yang dapat kalian perbuat untuk menanggulangi dosa-dosa kalian? Tanpa kematian Kristus di atas salib, tidak ada jalan untuk tertebus dari dosa-dosa kalian." Meskipun Kristus telah tersalib bagi dosa-dosa kita, tujuan penyaliban-Nya ialah "melepaskan kita dari zaman jahat yang sekarang ini." Dosa-dosa itu milik Iblis, sedangkan zaman ini adalah zaman setani. Kita telah menunjukkan bahwa zaman sekarang ini adalah bagian dari sistem dunia Iblis (Satan) masa kini. Sebagai Iblis, seteru Allah berkaitan dengan dosa-dosa; dan sebagai Satan, ia berkaitan dengan zaman jahat. Sekalipun orang-orang Galatia dan para penganut agama Yahudi berhasil memelihara hukum Taurat, bagaimanakah mereka menanggulangi Iblis, Satan? Dapatkah Anda menaklukkan Iblis? Iblis begitu licik, bersembunyi di belakang dosa-dosa dan zaman jahat. Tanpa penyaliban Kristus, kita tidak berdaya menanggulangi dosa-dosa, yang di belakangnya Iblis bersembunyi, atau zaman jahat yang di belakangnya Satan bersembunyi. Kristus tersalib karena dosa-dosa kita agar Ia dapat melepaskan kita dari zaman jahat yang sekarang ini. Hal ini menunjukkan bahwa hanya Kristuslah yang dapat menyelamatkan kita dari Iblis, Satan. Dosa-dosa dan zaman jahat keduaduanya telah ditanggulangi oleh Kristus yang disalibkan. Dia menyerahkan diri-Nya sendiri karena kita di atas salib sesuai dengan kehendak Allah. Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 12

23 May 2012

Galatia - Minggu 6 Rabu

Pembacaan Alkitab: Gal. 2:21 Kita tidak dapat menikmati anugerah Allah secara penuh dalam sehari atau bahkan dalam seumur hidup kita. Kita baru dapat menikmati anugerah ini secara penuh ketika kita berada dalam kekekalan. Inilah anugerah yang datang bersamaan dengan kedatangan Tuhan Yesus, dan inilah anugerah yang kita perlukan dari hari ke hari. Puji Tuhan bahwa ini adalah anugerah yang kita temukan melalui datang ke takhta anugerah setiap hari untuk memenuhi keperluan kita pada waktunya. Setiap pagi kita harus menengadah kepada Tuhan dan berdoa, "Tuhan, berikanlah anugerah-Mu hari ini kepadaku. Aku perlu bagian anugerah-Mu hari ini. Semoga anugerah menyertai aku dan semua saudara saudariku." Oh, kita semua perlu berdoa sedemikian! Kemudian, kita akan mengalami anugerah, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit bagi kenikmatan kita. Para penganut agama Yahudi yang buta itu sungguh bodoh. Jika mereka telah nampak apa itu anugerah Allah, mereka tidak mungkin menjadi para penganut agama Yahudi lagi. Namun, karena mereka buta, mereka berusaha dengan gairah untuk mengalihkan orang dari Kristus. Mereka tidak memahami bahwa ekonomi Allah tidak menghendaki umat pilihan-Nya memelihara hukum Taurat. Ekonomi Allah menghendaki umat-Nya menikmati Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberihayat melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Dalam ekonomi-Nya, Allah menghendaki umat-Nya menikmati diri-Nya sendiri sebagai Allah Tritunggal yang demikian, dan menjadi satu dengan Dia. Kemudian umat-Nya akan menjadi satu dalam hayat ilahi untuk mengekspresikan Allah secara korporat. Ekspresi korporat dari Allah Tritunggal ini adalah kehidupan gereja. Hasil terakhir dari hal ini ialah Yerusalem Baru, ekspresi korporat dari Allah Tritunggal dalam kekekalan. Jika kita nampak visi ekonomi Allah ini, bagaimana mungkin kita berbalik kembali ke hukum Taurat? Bagaimana mungkin kita beralih dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi anugerah kita? Tidak heran Paulus berkata bahwa orang-orang Galatia itu bodoh, sebab mereka meniadakan anugerah Allah. Jika kita ingin menjadi orang-orang yang tidak meniadakan anugerah Allah, perlulah kita tinggal di dalam Kristus (Yoh. 15:4-5). Tinggal di dalam Kristus berarti menetap dalam Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Selain itu, kita perlu menikmati Kristus, khususnya melalui makan Dia (Yoh. 6:57b). Kemudian kita harus maju untuk menjadi satu roh dengan Kristus (I Kor. 6:17), berjalan atau hidup di dalam Roh (Gal.5:16, 25), menyangkal "aku" yang alamiah (2:20), dan meninggalkan daging (5:24). Kita tidak boleh diselewengkan oleh hal-hal seperti hukum Taurat, sunat, hari Sabat, dan peraturan-peraturan tentang makanan. Sebaliknya, kita harus menikmati Kristus dan hidup bersama Dia dalam satu roh. Jika kita berjalan di dalam roh, menyangkal "aku" yang alamiah, dan meninggalkan daging, kita akan menjadi orang-orang yang tidak meniadakan anugerah Allah. Sumber: Pelajaran-Hayat Galatia, Buku 1, Berita 11